Nationalpost.id

Jelas, Aktual, Terlengkap dan Terpercaya

Sukses Digelar!! Dekrit Relawan 5 Juli 2020, Ketum Elang Sakti : “Pancasila Sudah Final Dan Relawan Cerdas Harus Tetap Kawal Dan Berikan Kritik Membangun Terhadap Pemerintahan Jokowi Hingga Akhir Periode Jabatan Presiden Jokowi Di 2024 Mendatang!”

3 min read
Bagikan Berita

4,112 total views, 5 views today

Jakarta, -NationalPost.id- Sejatinya, perikehidupan berbangsa dan bertanah air, sudah selayaknya dan sepantasnya dilandaskan pada sesuatu yang dapat dijadikan Falsafah maupun Pandangan Hidup berbangsa dan bernegara, yang diatur oleh aturan-aturan yang normatif, yang mengatur keajegan sifat dan kepribadian bagi masyarakat suatu negara, dimana identitas negara itu pastinya memiliki Falsafah dan Pandangan Hidup Yang memiliki standar baku yang diamini dan dilakukan oleh masyarakat di Negara tersebut.

Akan halnya Pancasila, sebagai suatu Falsafah dan Pandangan Hidup berbangsa dan bernegara bagi semua elemen Bangsa dan Negara di Republik Indonesia, dimana telah menjadi sebuah identitas utama, akan keteraturan perikehidupan berbangsa dan bertanah air bagi masyarakat yang ada di seluruh wilayah NKRI, yang mana Pancasila telah dibuat dan disarikan Oleh para bapak bangsa (Founding Fathers), yang sudah memikirkan konsep bernegara melalui Pancasila, dimana tiap butir Sila dalam Pancasila adalah Falsafah dan Pandangan Hidup berbangsa dan bertanah air yang sudah sepantasnya diamalkan dalam tiap sensi kehidupan masyarakat, sehingga NKRI tetap jadi satu Bangsa yang besar dan masyarakatnya menghargai kepribadian Bangsa Indonesia tersebut.

Akan hal terkait isu-isu yang bersifat antitesis terhadap Pancasila dan adanya upaya terhadap pemakzulan Jokowi dariĀ  jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, yang dapat menimbulkan kegaduhan terhadap kehidupan berbangsa dan bertanah air inilah, maka diadakan Dekrit Relawan pada tanggal 5 Juli 2020, dimana ini merupakan sebuah peringatan terhadap peristiwa Dekrit 5 Juli 1959 di Era Presiden Soekarno terkait salah satu peristiwa besar dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia yakni Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dekrit ini menegaskan memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai konstitusi Indonesia. Jika dibuat dalam periodisasi, Dekrit Presiden 5 Juli adalah periode keempat sejarah konstitusi Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli tak bisa dilepaskan dari kegagalan Konstituante membentuk sebuah UUD baru pengganti UUD Sementara 1950. Konstituante gagal mencapai kata sepakat karena tak ada satu kekuatan politik di Konstituante mendapatkan 2/3 suara yang hadir.

Dekrit Relawan Jokowi 5 Juli 2020 yang digelar di Gedung Joeang 45 ini dihadiri oleh lebih dari 100an organ relawan Jokowi yang mana juga didalam agenda utamanya adalah penandatangan Dekrit Relawan tersebut yang diwakilkan Oleh para ketua umum organ Relawan Jokowi.

Azwar SH, MH, Ketua Umum Elang Sakti yang menghadiri Dekrit Relawan kali ini menganggap bahwasanya Dekrit Relawan memiliki urgensi yang mendesak, dimana didalamnya adalah hasil buah pemikiran para organ relawan Jokowi terkait kondisi kebangsaan dan nasionalisme akhir-akhir ini, dimana dengan adanya peristiwa terakhir yang terjadi yakni demonstrasi di depan Gedung DPR-MPR di kawasan Senayan Oleh mereka yang menamakan dirinya ANAK (Aliansi Nasional Anti Komunis) yang dimotori oleh PA 212, dimana salah satu agendanya adalah menolak Komunisme gaya baru yang dibungkus dengan demonstrasi anti penetapan RUU HIP, dan juga adanya agenda pemakzulan Jokowi.

“Kami dari Elang Sakti, salah satu organisasi relawan Jokowi sangat menyayangkan dan menentang atas aksi dari ANAK yang menginisiasi demonstrasi anti penetapan RUU HIP, yang dibungkus dengan seolah-olah sangat mendukung Pancasila, namun bila dicermati dengan seksama, maka bukan Pancasila yang dibela, melainkan sistem lain, yang mana sudah kita ketahui bersama adalah khilafah, yang sangat tidak Sesuai dengan Falsafah dan Pandangan Hidup berbangsa dan bernegara yakni Pancasila, dimana Bila dicermati, organisasi-organisasi yang tergabung di ANAK adalah notabene anti Pancasila, kok bisa-bisanya menyebut dirinya paling Pancasilais dengan menolak RUU HIP, sangat aneh dan tidak masuk di akal,” ujar Azwar Anas SH, M.Hum, Ketua Umum Elang Sakti.

“Yang Kedua adalah terkait pemakzulan Jokowi, ini agenda yang sangat tendensius dan membahayakan kehidupan berbangsa dan bertanah air bagi seluruh elemen Bangsa Indonesia, kami selaku organ relawan Jokowi, akan fight dan tetap mengawal pemerintahan Presiden Jokowi hingga akhir masa periode kepresidenannya di 2024 mendatang,” terang bang Azwar, panggilan akrabnya.

“Kami dari Elang Sakti Akan tetap mengawal Pak Jokowi hingga 2024, dan tetap setia pada Pancasila sebagai Falsafah dan Pandangan Hidup berbangsa dan bernegara yang berlaku sebagai Norma substansial di Republik Indonesia. NKRI Harga Mati!!!,” pungkas Azwar Anas, SH, M.Hum pada NationalPost.id