Nationalpost.id

Jelas, Aktual, Terlengkap dan Terpercaya

Saham Pemerintah sebesar 2,94 miliar (80,66%) Di Akuisisi oleh PT Bio Farma (Persero) sebagai Induk Holding BUMN Farmasi

3 min read
Bagikan Berita

100,393 total views, 7 views today

NationalPost, Jakarta, Kamis (06/02/2020) 10:30 AM,

PT Indofarma Tbk (INAF) perusahaan farmasi ini mengalihkan 2,94 miliar saham seri B yang dimiliki pemerintah kepada PT Bio Farma (Persero). Sekretaris Perusahaan Indofarma, Arie Genipa Suhendi mengungkapkan bila pengalihan saham tersebut akan dijadikan tambahan penyertaan modal negara di Bio Farma sehingga seluruh saham seri B milik negara di Indofarma dialihkan ke Bio Farma sebagai penambahan penyertaan modal negara ke dalam modal saham Bio Farma,” jelasnya.

Alhasil, saham seri B yang sebesar 80,66% di perseroan saat ini dikuasai oleh Bio Farma dan sisanya 19,33% digenggam publik. Namun begitu, saham seri A dwi warna perseroan tetap dimiliki oleh negara.

“Sekarang status perseroan yang tadinya perusahaan persero atau BUMN menjadi non persero,” ucapnya.

Pengalihan saham didasari PP 76 Tahun 2019 mengenai Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham PT Bio Farma. Serta, Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 862/KMK.06/2019 tentang penetapan Nilai Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham PT Bio Farma.
Usai Terbentuk, Holding BUMN Farmasi Berambisi Jadi Pemain Global

PT Bio Farma (Persero) yang merupakan induk Holding Badan Usaha Milik Negara sektor Farmasi memastikan siap untuk mendorong anggota Holding yakni PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk untuk mandiri, baik dalam hal penelitian maupun produksi produk-produknya.

Tak hanya itu, Bio Farma juga mengupayakan mendorong anggota Holding BUMN Farmasi untuk menerapkan Produksi dan Quality Management System untuk mendapatkan Pre-Qualification WHO (PQ WHO)

Dengan PQ-WHO, diharapkan Kimia Farma dan Indofarma juga dapat menembus pasar global, dan membantu anggota Holding BUMN Farmasi untuk menjadi global player, mengingat saat ini produk Bio Farma sudah digunakan di lebih dari 140 negara di dunia dan menembus pasar di negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, mengatakan bahwa industri farmasi di Indonesia saat ini masih dihadapkan pada beberapa tantangan yang cukup signifikan karena Indonesia masih bergantung pada impor, khususnya untuk bahan baku obat atau Active Pharmaceutical Ingredients (API).

Tantangan lainnya adalah akses untuk mendapatkan produk farmasi yang cenderung sulit karena keterbatasan jalur distribusi yang membuat harga obat relatif mahal. Tantangan berikutnya, inovasi-inovasi terbaru yang dapat melahirkan produk farmasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
“Dengan bergabungnya Bio Farma, Kimia Farma, dan Indofarma dalam suatu Holding BUMN Farmasi, diharapkan masing-masing dari perusahaan ini akan memberikan kontribusi pada ketahanan farmasi nasional,” jelas Honesti Basyir di Jakarta, Kamis (06/02/2020).

“Sehingga harga produk farmasi bisa lebih murah karena adanya penurunan harga API dan masyarakat akan lebih mudah mendapatkan produk farmasi dengan jaringan distribusi yang luas dan merata, bahkan hingga ke mancanegara. Yang terpenting adalah inovasi-inovasi dapat melahirkan produk baru yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia,” tambahnya.
Dirinya menambahkan, dari sisi inovasi Bio Farma sebagai induk holding akan mendorong Kimia Farma dan Indofarma untuk dapat melakukan penetrasi pasar yang lebih luas lagi dengan standar produk yang sudah terkualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Setelah holding ini terbentuk, selain sebagai induk Holding Company, Bio Farma akan tetap fokus pada core bisnis utama saat ini yaitu sebagai produsen vaksin dan antisera, dengan adanya manajemen tersendiri yang fokus kepada sektor tersebut sebagai operating holding.

Penetapan Bio Farma sebagai holding BUMN farmasi ditandai pascakeluarnya surat persetujuan dari Menteri BUMN selaku RUPS yang menyetujui pengalihan seluruh saham seri B milik Negara Republik Indonesia pada Kimia Farma maupun Indofarma ke PT Bio Farma (Persero) pada akhir Januari 2020.

Tujuan dari holding BUMN Farmasi ini adalah selain untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional, juga untuk meningkatkan ketersediaan produk dengan menciptakan inovasi bersama dalam penyediaan produk farmasi untuk mendukung ekosistem farmasi di masa yang akan datang.(red)